Kamis, 13 Januari 2011

Artikel Ilmiah Populer

TEKNIK DAN PEMAKNAAN PORTRAIT

Oleh Andra Dwi T. P.

Komunikasi merupakan ilmu yang sangat luas. Selain menyampaikan pesan melalui ucapan, tulisan ataupun suara, komunikasi pun dapat disampaikan melalui foto. Komunikasi yang dimaksud adalah cara seorang fotografer untuk mengekspresikan pandangannya terhadap suatu objek. Melalui sebuah foto seorang fotografer dapat bercerita banyak mengenai suatu tempat, suatu peristiwa, kegiatan atau bahkan suatu hal yang menarik perhatian. Setiap fotografer tentu saja memiliki ciri khas yang berbeda, namun pada dasarnya mereka menggukan teknik yang sama. Dalam bidang fotografi, banyak teknik-teknik yang digunakan untuk memperindah sebuah foto. Foto yang indah, dapat menarik perhatian komunikan agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik. Fotografi pun memiliki berbagai macam jenis foto, seperti foto landscap, foto jurnalistik, foto model, foto portrait, foto produk, foto makro, dll. Jenis foto portrait sangat menarik untuk dipelajari, selain tekniknya kita pun dapat mempelajari bagaimana menyampaikan makna lewat foto portrait.

Fotografi portrait atau lazimnya disebut foto portrait adalah foto karakterisitik seseorang atau seperti yang diungkapkan Audi Mirza Awi dalam bukunya Foto Jurnalistik menyebutkan bahwa foto portrait adalah foto yang menampilkan wajah seseorang secara close up dan “mejeng”. Ditampilkan karena adanya kekhasan pada wajah yang dimilikinya atau kekhasan lainnya. Jadi inti dari pernyataan tersebut bahwa foto portrait adalah foto tentang sesorang dengan ciri khasnya, pekerjaannya atau hal lainnya yang menunjukan bahwa foto itu “sangat dirinya”.

Foto portrait merupakan bagian dari foto jurnalistik. Jenis-jenis foto jurnalistik menurut WPP (Word Press Photography) ada 9, yaitu spot photo, general news photo, people in the news photo, daily life photo, portrait, sport photo, science and technology photo, art and culture photo, dan social and environment. Menurut editor majalah Life, dari 1937-1950, Wilson Hicks yang dikutip dari buku Audy Mirza Alwi dalam bukunya Foto Jurnalistik, fotografi jurnalistik adalah kombinasi dari kata dan gambar yang menghasilkan satu kesatuan komunikasi saat ada kesamaan antara latar belakang pendidikan dan sosial pembacanya. Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa, bila sebuah foto portrait diperjelas dengan kata-kata yang mendukung foto itu, maka, sebuah foto portrait dapat memberitakan suatu hal tentang seseorang yang ada dalam foto tersebut.

Teknik Foto Portrait

Salah satu hal yang penting dalam pemotretan yaitu seorang fotografer harus menyediakan konsep foto. Konsep foto tidak terlepas dari komposisi. Menurut John Kim dalam bukunya 40 Teknik Fotografi Digital mengungkapkan bahwa komposisi baik dalam fotografi maupun seni, berkaitan dengan unsur-unsur yang tersusun dalam karya itu. Misalnya saja, pengaturan komposisi dapat dilakukan dengan memperhatikan penempatan subjek, aturan sepertiga bagian, horizontal atau vertical, pengisian bidang foto, dan garis pandu. Hal-hal tersebut dapat sangat membantu dalam membuat komposisi yang menarik.

Setiap foto pasti membutuhkan pencahayaan, karena jelas bahwa kata ‘fotografi’ bermakna melukis dengan cahaya, apabila tidak ada cahaya tentu saja kita tidak akan dapat memotret. Pencahayaan mengacu pada banyaknya cahaya yang mengenai sensor elektronik di kamera digital atau film di kamera analog. Pencahayaan dapat berupa OE (Over Exposure) atau UE (Under Exposure) maksudnya OE (Over Exposure) adalah pencahayan yang berlebih. Penyebabnya adalah pengaturan aperture (bukaan lensa) dengan shutter speed (kecepatan rana) yang tidak sesuai. Misalnya memotret dalam cuaca cerah, fotografer menggunakan speed 1/30 dengan aperture f5,6, tentu saja foto yang dihasilkan akan menjadi sangat terang dan menyilaukan mata. Sedangkan UE (Under Exposure) adalah kurangnya pencahayaan. Penyebabnya pun sama dengan over exposure namun biasanya ini disebabkan oleh besarnya angka aperture dan besarnya kecepatan rana. Misalnya memotret dalam cuaca mendung, fotografer menggunakan speed 1/125 dengan aperture f11, tentu saja foto yang dihasilkan akan gelap.

Pencahayaan ideal dapat dilakuakan dengan berbagai cara, selain pencahayaan yang telah disebutkan diatas, si fotografer pun dapat membentuk atau mengkondisikan cahaya sesuai dengan keinginan mereka dengan menggunakan cahaya tambahan seperti flash, softbox dan sebagainya. Dengan begitu fotografer dapat membuat konsep foto tersebut sesuai dengan yang ia inginkan, dengan cahaya si fotografer dapat lebih melalukan penekanan terdapat makna foto yang ingin disampaikan.

Contohnya saja, seseorang dengan mimik wajah datar dapat ditekankan dengan memotret di tempat yang sedikit cahaya dengan memberikan efek splash cahaya pada salah satu bagian sisi wajahnya. Dari foto tersebut kita dapat memaknainya bahwa orang atau subjek dalam foto tersebut adalah orang yang pendiam, dan kurang ekspresif. Bandingkan bila tidak dilakukan pencahayaan, foto tersebut akan terlihat datar, kurang menarik dan kurang penekanan.

Banyak hal penting dalam melakukan pemotretan portrait selain pencahayaan. Dalam pemotretan portrait tidak semua model tampil sempurna dengan menatap ke kamera. Dalam hal ini fotografer dapat mengarahkan modelnya untuk menatap ke kanan atau kekiri. Selain itu, pengambilan foto pun dapat dilakukan secara alami atau natural dan juga, latar belakang pada subjek pun menjadi penting karena latar belakang dapat membuat objek terlihat jelas. Latar belakang yang dipilih harus berbeda dengan warna wajah atau pakaian si subjek.

Teknis dalam foto portrait dapat menggunakan alat-alat yang beragam, seperti : kamera DSLR (Digital Single Lens Reflect) atau kamera SLR (Single Lens Reflect), lensa wide, lensa fix, lensa standar 18-55mm atau lensa tele. Pada dasarnya semua itu tergantung kebutuhan si fotografer. Selain kamera dan lensa, yang biasanya digunakan terutama saat indoor juga adalah lampu kilat eksternal, diffuser (pelembut cahaya) dll.

Setiap foto pasti memiliki makna, baik tersirat ataupun tersurat. Foto portrait kebanyakan menampilkan makna secara tersirat. Misalnya, bila seseorang difoto dengan menggunakan baju putih beserta stetoskop. Sangat jelas dalam foto itu bahwa Ia adalah seorang yang berprofesi dokter. Foto portrait sangatlah menarik bila dipelajari lebih dalam lagi. Semua teknis-teknisnya pada dasarnya sama dengan foto-foto pada umumnya. Karena yang penting dalam fotografi menguasai dasar-dasarnya.

Intinya komunikasi tidak hanya dengan berbicara, dengan tulisan atau dengan suara, foto juga dapat berkomunikasi. Sebuah foto dapat mengabadikan sebuah moment yang ingin disampaikan kepada penikmatnya. Dalam bidang fotografi, begitu banyak jenis-jenis foto, salah satu yang menarik untuk dipelajari adalah foto portrait. Foto portrait merupakan bagian dari foto jurnalistik yang bila didukung oleh kata-kata foto tersebut dapat menjadi sebuah pemberitaan. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk membuat sebuah foto portrait, kita dapat mebuat konsep sebelum memotret, mengatur komposisi, serta mengatur pencahayaan. Alat-alat teknis yang digunakan sesuai dengan kebutuhan seorang fotografer. Makna yang tersirat dalam foto portrait dapat terlihat dari foto yang dihasilkan seorang fotografer.

Daftar pustaka

Alwi, Audy Mirza. 2004. Foto Jurnalistik. Jakarta: Bumi Aksara.

Kim, John. 2004. 40 Teknik Fotografi Digital. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.


(tulisan ini dibuat tuntuk tuga kampus, maklum kalau msh banyak salah ^^)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar