Jumat, 30 September 2011

Ini Semua Untuk Ayah


Andra Dwi Tiara

Sambil terisak, aku bergegas keluar dari mobil. Pintu mobil dengan kencangnya ku hempaskan. Lalu aku berlari kencang, semua mata tertuju padaku. Mereka mencoba menahanku dan menenangkanku, tetapi aku tak peduli. Aku terus berlari kencang dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti. Hatiku tersayat saat melihat bendera kuning terpampang di depan jalan itu.
***
Malam itu malam Jum’at. Kami, keluarga kecil ini selalu menghabiskan waktu bersama-sama saat kesempatan itu ada. Ya, itu adalah ayah, ibu, aku dan kakakku. Malam itu ayah mengajak aku, ibu, dan kakak untuk pergi makan di luar. Ayah sangat bersemangat malam itu dan entah kenapa ayah sangat memaksa padahal kami sudah makan malam sebelumnya. “Ayo kita makan lagi,” dengan nada memaksa dan membujuk agar kami mengikuti keinginannya. Dan akhirnya kami pun pergi keluar karena ayah terus memaksa.

Kami menyantap makanan dengan lahapnya, walaupun sudah kenyang tetapi karena kebersamaan keluarga kecil ini, kami lupa dengan perut yang sudah kenyang. Ayah terlihat senang, sesekali ia melihat anak-anaknya makan dan menawarkan untuk tambah lagi. Ayah mengeluarkan guyonannya, dia meledek aku gendut, makannya banyak. Begitu juga ibu dan kakak, mereka ikut menimpali guyonan ayah. Semua tertawa, bercanda dan berbincang dengan gembira. Acara makan pun selesai, ayah pergi untuk membayar makanan, sedangkan ibu dan kakak sudah beranjak menuju mobil. Aku masih terdiam berdiri menunggu ayah membayar makanan. dan melihat ke arahnya dengan seksama, senang rasanya melihat ayah sudah pulih, sudah bisa makan banyak.

Ayah sakit jantung. Semuanya  berawal sejak dua tahun yang lalu. Ayah perokok keras semenjak ia masih remaja dan kami sekeluarga tahu tentang hal itu. Aku benci saat ayah merokok di dalam rumah. Melarang ayah merokok dan menasehatinya tentang rokok adalah hal yang biasa aku lakukan tapi itu semua tidak mempan. Hingga suatu hari serangan jantung menyerang ayah dan terpaksa membuat ayah berhenti merokok dan menuruti kata-kata dokter.

Dua tahun itu ayah berubah. Ia tak lagi sesehat dan sesegar dulu. Ia sudah tidak bisa terlalu banyak beraktivitas, naik motor pun ia sudah tidak mampu. Seharusnya ayah tinggal duduk istirahat di rumah. Namun, ayah bukanlah orang yang tinggal diam untuk urusan menafkahi keluarga. Dalam kondisi yang kadang baik kadang buruk ayah tetap membanting tulang untuk keluarganya. Ia tetap menjalankan dan mengontrol usahanya dengan baik.

Pengobatan terus dilakukan. Ayah selalu check up setiap dua minggu sekali. Beberapa kali kambuh, beberapa kali dirawat, dan beberapa kali sehat kembali sudah ayah lewati. Namun, rupanya penyakit ini memang berbahaya, sewaktu-waktu serangan lebih hebat bisa menyerangnya.

Aku sangat menyayangi ayah. Aku adalah anak kesayangannya. Itu yang selalu ibu bilang kepadaku. Ayah tidak pernah memarahiku dan memukulku, dia selalu memberi nasihat melalui kata-katanya yang bijak. Ajaran dan didikannya yang tidak keras dan penuh kasih menjadikan aku seperti ini.

Aku bergantung pada ayah dari sejak SD, ayah selalu mengajarkanku dan membantuku bila ada mata pelajaran yang sulit. Sampai aku kuliah, ayah selalu membimbingku, menemaniku mengerjakan tugas hingga larut malam, menawarkan bantuan meskipun ia dalam keadaan sakit. Ayah selalu berusaha mengawasiku meskipun ia lakukan itu melalui ibu. Mungkin karena itu aku tumbuh menjadi anak yang manja, tetapi aku juga tumbuh menjadi seorang yang banyak belajar. Belajar bahwa orang tua adalah faktor utama yang harus dijadikan acuan dalam bertindak. Karena kebaikan dan kasih sayangnya, aku selalu ingin melakukan yang terbaik untuk mereka.

Semua terasa bahagia saat kami mengantar ayah check up untuk mengetahui bagaimana keadaan jantungnya. Hari itu hasil check up ayah sangat baik, dokter bilang keadaan ayah sekarang lebih baik dari hasil check up sebelumnya. Bukan hanya lebih baik, tetapi jauh lebih baik. Walaupun keadaannya sudah baik, ayah harus tetap menjaga kondisinya karena tidak ada yang dapat memperediksi keadaaan jantungnya.

Hari itu hari Sabtu, tanggal 5 Maret 2011. Mungkin hari ini hanya selang beberapa minggu saja setelah ayah melakukan check up. Hari itu, aku dan kakakku sudah merencanakan untuk pergi bersama. Kami merencanakan untuk pergi hunting foto. Saat itu kakak sedang libur dari kerjanya, dan kami memutuskan untuk berangkat pagi hari. Ayah masih tertidur lelap, setelah solat subuh  ayah tidur lagi karena ia merasa lelah katanya. Aku dan kakak pegi tanpa berpamitan dan tanpa mencium tangannya.  Entah kenapa hal itu kami lakukan, padahal biasanya sebelum berangkat kami pasti selalu menengok ke kamarnya, meminta izin keluar dan mencium tangannya walaupun ayah sedang tertidur nyenyak. Saat malam harinya ayah hanya bertanya, “Besok mau kemana?” Aku menjawab dan menjelaskan bahwa besok aku dan kakak akan hunting foto. Ayah hanya terdiam, dan kemudian berkata “Ngapain sih hunting foto, mending di rumah.” Biasanya ayah tidak pernah melarang kalau soal hunting foto.

Hari Sabtu itu aku dan kakak jadi pergi ke kota tua dengan perasaan sedikit ragu karena cuaca mendung. Tapi aku berusaha positif thinking bahwa hari akan cerah siang nanti. Setelah hunting beberapa jam, jam makan siang pun tiba. Aku, kakak dan beberapa orang teman lainnya memutuskan untuk mencari makan, tiba-tiba telepon kakak berdering, muka kakak terlihat panik dan terus bertanya “Ayah kenapa?” Namun, sepertinya tidak ada jawaban yang jelas. Kakak langsung menarikku pergi menuju mobil dan perasaanku saat itu hanya bingung dan terus bertanya dalam hati.
“Ayah kenapa?”
“Apa ayah masuk rumah sakit lagi?”
Sepanjang perjalanan aku terus mencari informasi tentang keadaan ayah. Aku bertanya pada semua keluargaku tapi tak satu orang pun menjawab, mereka hanya bilang, “Udah.. neng sama aa hati-hati aja di jalan ya. Bilangin ke aa jangan ngebut bawa mobilnya.” Semua masih menjadi pertanyaan besar dan hingga akhirnya aku tahu dari seorang teman ibu yang memberi ucapan belasungkawa kepadaku. Aku langsung menangis. Tanpa berbicara banyak sepertinya kakak tahu apa yang terjadi. Dia mencoba menenangkan aku walaupun sebenarnya dia pun sangat terpukul.

Saat hari itu, aku, kakak, dan ibu sedang tidak di rumah. Begitupun ayah, ia bekerja seperti biasa. Kami tidak sedang berkumpul, dan keadaan ayah sedang pulih-pulihnya. Dan pertanyaan baru pun muncul, terus berputar di otakku.
“Kenapa ayah pergi saat aku, kakak, dan ibu tidak ada disampingnya?”
“Kenapa kami tidak bisa mendampingin sakaratul mautnya?”
“Kenapa ayah pergi saat ia dalam kondisi sehat?”
“Kenapa ayah pergi saat ditempat kerjanya? Kenapa tidak di rumah?”
Sesampainya di Bogor aku berlari kencang menuju ayah. Aku ingin melihat ayah dan berharap ini hanya mimpi. Saat masuk ke rumah, semua pelayat sudah berada di tempat itu, aku menangis sambil dipeluk ibu. Melihat ayah sudah terbaring kaku, pucat dan tak berdaya. Ya, hari itu ayah pergi. Pergi untuk selamanya. Tak ada lagi perhatian dari seorang ayah, tak ada lagi nasihat-nasihat dan bantuan dari seorang ayah. Tak ada lagi candaan dari seorang ayah yang selama ini membesarkan aku.
Setelah kepergian ayah aku banyak belajar bahwa aku tidak boleh terlalu bergantung pada orang lain. Mungkin dulu aku terlalu bergantung pada ayah. Aku juga belajar bahwa ini memang yang terbaik untuk ayah. Ayah pergi tanpa menunjukan kesakitannya di depan kami, mungkin Allah tidak ingin melihat aku, ibu dan kakak melihat sakaratul maut ayah karena Ia tahu kita tidak akan kuat melihat itu semua. Dan aku belajar bahwa pemikiran Ayah yang kolot dan nasihat nasihat ayah yang tersirat, itu semua ia berikan demi kebaikan kami, putra putrinya.

Dan saat ini yang bisa aku lakukan adalah membuatnya bahagia disana. Mungkin sudah saatnya ayah beristirahat dengan tenang, tidak lagi direpoti dengan urusan anaknya yang manja, larena yang di atas menganggap tanggung jawab ayah sudah selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar