Minggu, 19 Februari 2012

pah.. doain yaa, besok anaknya seminar.. mudah2an seminarnya lancar dan bisa bikin papah bangga dan senyum disana.. :D #SuratBuatPapa *Ga Bisa Nyampein* *Cuma Bisa Lewat Sini* <3

Rabu, 30 November 2011

when you hear "nande? dou shite?" you will feel better quickly.. thats mean someone care to you :)

Jumat, 11 November 2011

Boleh Aku Ralat Doaku, Tuhan?

cerpen by : Andra


"Eh, anak kelas satu ya?" Lelaki yang mengenakan kaos basket dengan nomor punggung sembilan itu bertanya kepadaku dengan seulas senyuman di wajahnya.

***

Sore itu, hari Rabu. Artinya hari ini aku harus les bahasa Inggris. Aku murid kelas 1 SMP semasa itu, orang tuaku menyuruh aku untuk mengikuti les bahasa inggris di sekolah. ya, les privat. Aku dan satu temanku les setiap rabu sore di sekolah. hanya aku dan Disa temanku. Mr. Gino adalah guru bahasa inggris yang menyenangkan, ia selalu memberi pelajaran yang mudah untuk kami mengerti, tak heran kalau aku dan Disa selalu semangat mengikuti les.

Hari itu hujan sangat deras, cuaca kota hujan yang sangat menusuk kulitku. Seperti biasanya, saat cuaca seperti ini aku ngga bisa jauh-jauh dari toilet. disela-sela pelajaran sore itu aku berbisik pada Disa. 
"Dis, gw kebelet...  temenin yuk ke kamar mandi." dengan muka memelas. 
"Kebiasaan deh ini anak, pipis mulu. yaudah yuk." Seru Disa. 
Kami berdua-pun meminta izin untuk pergi ke toilet. Kelas yang kami tempati letaknya jauh dari kamar mandi. Kamar mandi terletak di dekat pintu keluar sekolah. Aku berlalri kecil sambil menahan rasa ingin pipis. Setibanya di kamar mandi aku masih harus menunggu karena di dalamnya ada yang sedang ganti baju. Di tangga dekat toilet ada seorang kakak kelas yang sepertinya lagi menunggu temannya yang di dalam. Aku mengernyitkan dahiku dan lompat-lompat kecil menahan rasa ingin pipis yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Kakak itu berdiri, dan bertanya ka arahku. 
"Eh anak kelas satu ya?" serunya sambil tersenyum.
"Eh umm, iya kak." seruku sambil membalas senyumnya. 
"Ngapain jam segini masih disekolah? pasti ada les ya?" tanyanya lagi.
"Hehehe iya ada les bahasa Inggris kak." seketika rasa ingin pipisku hilang, entah kenapa sekarang yang kurasakan malah rasa ingin lompat dari lantai 13. Rasanya deg-degan. "Huaaaaaaa" jeritku dalam hati. 
Tak lama kemudian seorang wanita tomboy berambut keriting keluar dari kamar mandi dan kakak itupun meninggalkan kamar mandi bersama temannya dengan memberikan senyum seolah mengatakan "duluaan ya" dan akupun segera pipis.

***

Semenjak hari itu semua berubah disekolah. Aku, yang awalnya merasa bosan di sekolah karena tidak ada yang menarik kini menjadi orang yang paling semangat untuk pergi ke sekolah. ya, karena kakak itu. Namanya Febri aku tahu itu dari baju basket yang ia kenakan saat latihan, dia anak kelas 2. Dia anak basket, dan dia lucu. Itu yang aku tahu. Setiap hari entah kenapa pandanganku selalu tertuju pada kakak yang satu itu. Semenjak hari itu, aku mulai mencari tahu tentangnya, tentang siapa dia dan kebiasaan-kebiasaanya. Aku bukan stalker yang mengikuti dia kemana-mana, aku hanya secret admirer. 

Entah kenapa pertemuan demi pertemuan dengan Febri menjadi semakin sering setelah hari itu. mungkin karena aku baru menyadari adanya dia. Di kantin, di depan kelas, hingga saat pulang sekolah aku selalu melihatnya. Aku tentu saja tidak menyimpan ini sendirian, aku berbagi hal ini dengan sahabatku Nisa. Nisa selalu tahu apa yang aku lakukan saat aku melihat Febri, aku akan meremas tangan nisa dan berkata "ya ampun nis, meong lucu bangeeeet."

Meong. Ya meong, aku memanggilnya meong. Menurutku saat itu Febri lucu seperti meong, maklumlah pemikiran anak baru gede yang baru menginjakan kakinya di dunia remaja suka berlebihan dan aneh-aneh. Febri adalah orang yang lucu, bukan hanya wajahnya namun juga kelakuanya. Aku selalu memperhatikan dia saat ia bergurau dengan temannya, selalu tertawa terbahak-bahak dan saat ia tersenyum matanya hanya segaris. Dia bukan cina, tapi dia matanya hanya sedikit sipit. Seperti itulah yang Tuhan berikan padanya, dan aku suka itu. 

Hari itu, kebiasaanku muncul lagi. aku meminta Nisa untuk menemaniku pipis. Aku berjalan ke toilet dengan Nisa, dan aku lihat Febri sedang main badminton di dekat toilet, sepertinya ia malas-malasan mainnya karena ia bermain badminton sambil duduk. "ada-ada aja si meong" bisikku dalam hati. Aku berjalan mendekat dan semakin dekat dengan Febri lagi-lagi aku meremas tangan Nisa. 
"Nisaaa meong." gumamku kecil. 
"Aduh.. aduh..Iya cha, ciyee.. hahaha" Nisa menahan rasa sakit sambil tertawa melihat tingkahku. 
Aku berjalan sewajarnya sambil sesekali memandang dia dari belakang. Dan ditoilet aku merapikan bajuku, dan keluar sambil senyum-senyum sendiri, Aku berjalan menuju kelas, dan saat melewati Febri, Febri terlihat akan menyemash dengan raketnya namun tiba-tiba raketnya mengenai aku. "huaaaaa" hanya itu yang bisa aku ungkapkan dalam hati, dan yang aku keluarkan dimulut adalah kata "Aw" padahal sama sekali tidak sakit, itu hanya refleks. Febri menoleh ke belakang, mukanya terlihat kaget karena raketnya mengenai seseorang dan tak lama setelah menoleh ia berkata 
"Eh eh sorrry sooorry." Aku hanya menatapnya kecil, tersenyum, lalu melengos. 
Kata Nisa, saat aku melengos Febri hampir menghampiri aku, tapi aku keburu jalan duluan. ini kedua kalinya kita berkomunikasi, walaupun yang kali ini tidak seperti waktu awal.

Aku senang, melihatnya bermain basket di lapangan, aku senang melihatnya tertawa di kantin, aku senang melihatnya mengusap-usap rambut seperti orang sedang malu-malu. Aku senang melihatnya berlali di koridor kelas saat ia terlambat. Aku senang melihat ia belajar di jendela kelas. Aku senang melihat dia menatapku diam-diam. Aku senang walaupun hanya bisa melihatnya dari kejauhan.

Seperti orang kebanyakan, aku juga hanya bisa menatap Febri dari jauh, aku ngga pernah berani untuk melihatnya dari dekat apalagi menyapanya. Mungkin kami belum saling mengenal, tapi aku pernah berbincang dengannya. 

***

Hari ini hari sabtu, aku sangat ingat saat itu kami memakai baju pramuka. Bel pulang berbunyi, semua murid bersorak hingga akhirnya semua berhamburan keluar sekolah. 
"Yeee besok libuur." Sorak Nisa riang.. 
"Yaaah." aku menanggapi dengan lemas.
 "Loh kok yah? ga seneng ya?" 
"Iya, gabisa liat meong." ungkapku sedih
"Wuuu dasar, susah emang kalo lagi jatuh cintrong mah.haha" Ledek Nisa
Aku pun pulang dengan Nisa, aku manyun karena besok libur. Tiba-tiba saat keluar gerbang aku melihat Febri juga keluar gerbang, Aku berjalan duluan dan dia berjalan tepat dibelakangku. Sumpah perasaan salting dan deg-degan menghampiriku. Entah apa yang harus aku lakukan, berjalan biasa pun seperti tak biasa. Aku mencoba menenangkan diri dan berjalan dengan santai dan biasa seolah-olah tidak ada dia dibelakangku. Di dekat zebra cross, aku memutuskan untuk membeli minum dulu karena haus. Entah kenapa saat aku membeli minum, Febri menunggu di dekat warung tersebut, Ia berdiri sendiri dan dia seolah sedang menunggu. Aku menoleh sedikit kearahnya, dia menunduk dan sesekali melihat sekitar. Entah apa yang dia tunggu, namun anehnya saat aku lanjut berjalan dan menyebrang jalan, Ia pun mengikuti. Hah, entah apa yang ada di pikiran Febri saat Itu, tapi yang aku tahu aku sangat sangat senang saat itu. Senang bisa merasakan ia berjalan dibelakangku.

Aku selalu ingat semua hal tentang Febri, Aku ingat baju yang ia kenakan saat moment-moment berharga untukku, aku ingat jaket yang selalu ia kenakan ke sekolah, aku igat sepatu dan tas yang selalu ia pakai ke sekolah. Aku ingat pertama kali Ia pakai jam tangan. Aku ingat semuanya. 

Entah apa yang terjadi, saati itu aku ngga mengerti. Aku ngga mengerti apa Febri memberi sinyal atau tidak, aku juga tidak mengerti maksud Febri dan tatapan-tatapannya saat bertemu. Mungkin aku hanya ke-GR-an saat itu, dan aku tidak berharap banyak. Selama di SMP, cuma Febri yang membuat hari-hariku jadi berwarna. Hingga akhirnya dia lulus dan keluar dari sekolah. Hubunganku dengan Febri tidak jelas hingga akhirnya, kami hanya berbincang di awal, dan selanjutnya hanya saling menatap dan melihat dari jauh, Hanya itu, tidak lebih, Tapi entah kenapa hal itu tidak bisa aku lupakan hingga saat ini. Maybem he's my first love. :)

Waktu berjalan begitu cepat, aku lulus dengan nem yang kurang memuaskan untukku. entah kenapa prestasi yang aku hasilkan setiap semesternya selalu ditutup tidak sesuai harapan pada akhirnya. Aku menangis saat pembagian nem. bukan, ini bukan karena nemku terlalu buruk untuk dilihat, tapi karena aku tidak bisa masuk SMA yang sama dengan Febri. aku sangat sedih, yaa mungkin jalannya seperti ini. aku mencoba pasrah menjalani masa-masa SMAku tanpa bisa melihat Febri lagi. padahal saat kelas tiga aku sangat berharap capet lulus dan bisa masuk SMA yang sama dengan Febri agar aku bisa melihat dia lagi. Tapi takdir berkata lain.

Masa-masa SMAku indah. Ada yang datang dan pergi mengisi hari-hariku, tapi entah kenapa perasaan ini untuk Febri masih ada. Aku pengen ngeliat Febri, aku pengen ketemu lagi sama Febri, Hanya itu yang selalu ada diotakku. Hingga suatu hari sekolah Febri mengadakan Pentas Seni. Aku dan temanku memutuskan untuk datang karena band band pengisi acaranya adalah band-band kesukaan kami. Aku sangat senang saat itu, aku selalu berharap bisa ketemu sama Febri lagi. 

Di tengah kerumunan orang banyak aku dan Seli berjalan masuk, kami mencari tempat duduk di tribun. Saat itu penuh, dan sangat berisik. Jujur, yang aku lakukan saat itu bukan mendengarkan lagu band kesukaan kami, yang aku lakukan adalah meoleh ke kanan, ke kiri, ke belakang dan ke bawah. Ya, aku mencari Febri. Aku mencoba menikmati musik sebentar dan aku menoleh ke bawah dengan muka manyun. Dan mataku langsung melotot ketika aku melihat sesosok pria dengan mata sedikit sipit dan rambut lurus berponi, 
"SEEEEEELLL, FEBRI SEEEEEL." aku menarik baju seli, memastikan aku benar-benar melihat Febri.
"Yang mana cha?" seli mencari-cari orang yang aku maksud ditengah kerumunan orang banyak.
"Itu sel yang ituu." aku menunjuk ke arah pria itu.
"waaaa chaaa lo seneng banget pasti." seli berkata dengan muka sumringah.
"Iyaa seeel." 

Rasanya tidak sia-sia saat itu aku pergi ke Pensi sekolah itu. Rasanya sangat senang karena bisa melihat Febri lagi.

Dari sejak pensi itu aku tidak pernah melihat Febri lagi. Hingga lulus SMA kami berpisah semakin jauh. Aku dengar dari temanku Febri meneruskan sekolahnya ke Jogjakarta. itu artinya semakin sulit kesempatan aku dan Febri untuk bertemu secara kebetulan.

Aku menjalani kehidupanku seperti biasa, begitupun kehidupan percintaanku. Namun satu yang ngga bisa aku lupai, Febri, Aku ngga tau apa yang bikin aku ngga pernah bisa lupa sama Febri. Sampe suatu hari aku berdoa untu bisa ketemu Febri sekali lagi, aku pengen ngeliat dia sekaliii aja. Dan Allah maha adil dan maha bijaksana, Dia mengabulkan doaku.


Di akhir semester 3, sore itu cerah namun masih ada sisa-sisa bekas hujan tadi siang. Aku berjalan keluar kampus, menunduk lalu menegakan kepala, tercengang dan terdiam sejenak memastikan aku tidak sedang menghayal atau ngigo. dan itu benar Dia. Ya, Dia Febri yang dulu memberi warna masa-masa SMPku. Febri tidak menoleh kearaku, kami tidak bertemu pandang, ia sibuk berjalan menghindari becekan yang ada di depannya sementara aku memeperhatikan dia beberapa detik. Dia ngga banyak berubah, dia masih sama kaya dulu hanya perawakannya yang sedikit lebih besar dari saat SMP. Saat itu aku sangat bersyukur karena bisa melihatnya lagi.

Hal itu terjadi dua tahun lalu, dan hingga detik ini aku ngga tau lagi kabar tentang febri. bahkan aku ngga bisa nemuin facebook atau akun twitternya. mungkin ini salahku, karena aku yang meminta untuk bertemu dengannya satu kali lagi, Tuhan, boleh aku ralat doaku hari itu? Boleh aku melihatnya lagi? aku ingin bertemu dan mengenalnya lagi.

***


promise

oke.. mulai sekarang no more word "Pah tolongin neng, neng ga bisaaaaa" seperti kata Pak Guruh bilang, tugas papa udah selesai di dunia ini, tugas papa udah selesai untuk bantuin anaknya yang manja ini dan udah waktunya papa istirahat dengan tenang di sisi-Nya. kalo gw terus terusan bilang "pah, i need your help." bukannya itu malah ngeberatin papa di sana? bukannya itu malah bikin papa sedih. 
"I can stand alone dad" itu yang sekarang harusnya gw ucapin supaya ga ada beban buat papa istirahat di sana. I promise to you dad, your daughter can do it by her self. it all because of you :) 

sincerely, your daughter  

Jumat, 30 September 2011

Ini Semua Untuk Ayah


Andra Dwi Tiara

Sambil terisak, aku bergegas keluar dari mobil. Pintu mobil dengan kencangnya ku hempaskan. Lalu aku berlari kencang, semua mata tertuju padaku. Mereka mencoba menahanku dan menenangkanku, tetapi aku tak peduli. Aku terus berlari kencang dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti. Hatiku tersayat saat melihat bendera kuning terpampang di depan jalan itu.
***
Malam itu malam Jum’at. Kami, keluarga kecil ini selalu menghabiskan waktu bersama-sama saat kesempatan itu ada. Ya, itu adalah ayah, ibu, aku dan kakakku. Malam itu ayah mengajak aku, ibu, dan kakak untuk pergi makan di luar. Ayah sangat bersemangat malam itu dan entah kenapa ayah sangat memaksa padahal kami sudah makan malam sebelumnya. “Ayo kita makan lagi,” dengan nada memaksa dan membujuk agar kami mengikuti keinginannya. Dan akhirnya kami pun pergi keluar karena ayah terus memaksa.

Kami menyantap makanan dengan lahapnya, walaupun sudah kenyang tetapi karena kebersamaan keluarga kecil ini, kami lupa dengan perut yang sudah kenyang. Ayah terlihat senang, sesekali ia melihat anak-anaknya makan dan menawarkan untuk tambah lagi. Ayah mengeluarkan guyonannya, dia meledek aku gendut, makannya banyak. Begitu juga ibu dan kakak, mereka ikut menimpali guyonan ayah. Semua tertawa, bercanda dan berbincang dengan gembira. Acara makan pun selesai, ayah pergi untuk membayar makanan, sedangkan ibu dan kakak sudah beranjak menuju mobil. Aku masih terdiam berdiri menunggu ayah membayar makanan. dan melihat ke arahnya dengan seksama, senang rasanya melihat ayah sudah pulih, sudah bisa makan banyak.

Ayah sakit jantung. Semuanya  berawal sejak dua tahun yang lalu. Ayah perokok keras semenjak ia masih remaja dan kami sekeluarga tahu tentang hal itu. Aku benci saat ayah merokok di dalam rumah. Melarang ayah merokok dan menasehatinya tentang rokok adalah hal yang biasa aku lakukan tapi itu semua tidak mempan. Hingga suatu hari serangan jantung menyerang ayah dan terpaksa membuat ayah berhenti merokok dan menuruti kata-kata dokter.

Dua tahun itu ayah berubah. Ia tak lagi sesehat dan sesegar dulu. Ia sudah tidak bisa terlalu banyak beraktivitas, naik motor pun ia sudah tidak mampu. Seharusnya ayah tinggal duduk istirahat di rumah. Namun, ayah bukanlah orang yang tinggal diam untuk urusan menafkahi keluarga. Dalam kondisi yang kadang baik kadang buruk ayah tetap membanting tulang untuk keluarganya. Ia tetap menjalankan dan mengontrol usahanya dengan baik.

Pengobatan terus dilakukan. Ayah selalu check up setiap dua minggu sekali. Beberapa kali kambuh, beberapa kali dirawat, dan beberapa kali sehat kembali sudah ayah lewati. Namun, rupanya penyakit ini memang berbahaya, sewaktu-waktu serangan lebih hebat bisa menyerangnya.

Aku sangat menyayangi ayah. Aku adalah anak kesayangannya. Itu yang selalu ibu bilang kepadaku. Ayah tidak pernah memarahiku dan memukulku, dia selalu memberi nasihat melalui kata-katanya yang bijak. Ajaran dan didikannya yang tidak keras dan penuh kasih menjadikan aku seperti ini.

Aku bergantung pada ayah dari sejak SD, ayah selalu mengajarkanku dan membantuku bila ada mata pelajaran yang sulit. Sampai aku kuliah, ayah selalu membimbingku, menemaniku mengerjakan tugas hingga larut malam, menawarkan bantuan meskipun ia dalam keadaan sakit. Ayah selalu berusaha mengawasiku meskipun ia lakukan itu melalui ibu. Mungkin karena itu aku tumbuh menjadi anak yang manja, tetapi aku juga tumbuh menjadi seorang yang banyak belajar. Belajar bahwa orang tua adalah faktor utama yang harus dijadikan acuan dalam bertindak. Karena kebaikan dan kasih sayangnya, aku selalu ingin melakukan yang terbaik untuk mereka.

Semua terasa bahagia saat kami mengantar ayah check up untuk mengetahui bagaimana keadaan jantungnya. Hari itu hasil check up ayah sangat baik, dokter bilang keadaan ayah sekarang lebih baik dari hasil check up sebelumnya. Bukan hanya lebih baik, tetapi jauh lebih baik. Walaupun keadaannya sudah baik, ayah harus tetap menjaga kondisinya karena tidak ada yang dapat memperediksi keadaaan jantungnya.

Hari itu hari Sabtu, tanggal 5 Maret 2011. Mungkin hari ini hanya selang beberapa minggu saja setelah ayah melakukan check up. Hari itu, aku dan kakakku sudah merencanakan untuk pergi bersama. Kami merencanakan untuk pergi hunting foto. Saat itu kakak sedang libur dari kerjanya, dan kami memutuskan untuk berangkat pagi hari. Ayah masih tertidur lelap, setelah solat subuh  ayah tidur lagi karena ia merasa lelah katanya. Aku dan kakak pegi tanpa berpamitan dan tanpa mencium tangannya.  Entah kenapa hal itu kami lakukan, padahal biasanya sebelum berangkat kami pasti selalu menengok ke kamarnya, meminta izin keluar dan mencium tangannya walaupun ayah sedang tertidur nyenyak. Saat malam harinya ayah hanya bertanya, “Besok mau kemana?” Aku menjawab dan menjelaskan bahwa besok aku dan kakak akan hunting foto. Ayah hanya terdiam, dan kemudian berkata “Ngapain sih hunting foto, mending di rumah.” Biasanya ayah tidak pernah melarang kalau soal hunting foto.

Hari Sabtu itu aku dan kakak jadi pergi ke kota tua dengan perasaan sedikit ragu karena cuaca mendung. Tapi aku berusaha positif thinking bahwa hari akan cerah siang nanti. Setelah hunting beberapa jam, jam makan siang pun tiba. Aku, kakak dan beberapa orang teman lainnya memutuskan untuk mencari makan, tiba-tiba telepon kakak berdering, muka kakak terlihat panik dan terus bertanya “Ayah kenapa?” Namun, sepertinya tidak ada jawaban yang jelas. Kakak langsung menarikku pergi menuju mobil dan perasaanku saat itu hanya bingung dan terus bertanya dalam hati.
“Ayah kenapa?”
“Apa ayah masuk rumah sakit lagi?”
Sepanjang perjalanan aku terus mencari informasi tentang keadaan ayah. Aku bertanya pada semua keluargaku tapi tak satu orang pun menjawab, mereka hanya bilang, “Udah.. neng sama aa hati-hati aja di jalan ya. Bilangin ke aa jangan ngebut bawa mobilnya.” Semua masih menjadi pertanyaan besar dan hingga akhirnya aku tahu dari seorang teman ibu yang memberi ucapan belasungkawa kepadaku. Aku langsung menangis. Tanpa berbicara banyak sepertinya kakak tahu apa yang terjadi. Dia mencoba menenangkan aku walaupun sebenarnya dia pun sangat terpukul.

Saat hari itu, aku, kakak, dan ibu sedang tidak di rumah. Begitupun ayah, ia bekerja seperti biasa. Kami tidak sedang berkumpul, dan keadaan ayah sedang pulih-pulihnya. Dan pertanyaan baru pun muncul, terus berputar di otakku.
“Kenapa ayah pergi saat aku, kakak, dan ibu tidak ada disampingnya?”
“Kenapa kami tidak bisa mendampingin sakaratul mautnya?”
“Kenapa ayah pergi saat ia dalam kondisi sehat?”
“Kenapa ayah pergi saat ditempat kerjanya? Kenapa tidak di rumah?”
Sesampainya di Bogor aku berlari kencang menuju ayah. Aku ingin melihat ayah dan berharap ini hanya mimpi. Saat masuk ke rumah, semua pelayat sudah berada di tempat itu, aku menangis sambil dipeluk ibu. Melihat ayah sudah terbaring kaku, pucat dan tak berdaya. Ya, hari itu ayah pergi. Pergi untuk selamanya. Tak ada lagi perhatian dari seorang ayah, tak ada lagi nasihat-nasihat dan bantuan dari seorang ayah. Tak ada lagi candaan dari seorang ayah yang selama ini membesarkan aku.
Setelah kepergian ayah aku banyak belajar bahwa aku tidak boleh terlalu bergantung pada orang lain. Mungkin dulu aku terlalu bergantung pada ayah. Aku juga belajar bahwa ini memang yang terbaik untuk ayah. Ayah pergi tanpa menunjukan kesakitannya di depan kami, mungkin Allah tidak ingin melihat aku, ibu dan kakak melihat sakaratul maut ayah karena Ia tahu kita tidak akan kuat melihat itu semua. Dan aku belajar bahwa pemikiran Ayah yang kolot dan nasihat nasihat ayah yang tersirat, itu semua ia berikan demi kebaikan kami, putra putrinya.

Dan saat ini yang bisa aku lakukan adalah membuatnya bahagia disana. Mungkin sudah saatnya ayah beristirahat dengan tenang, tidak lagi direpoti dengan urusan anaknya yang manja, larena yang di atas menganggap tanggung jawab ayah sudah selesai.

Senin, 29 Agustus 2011

lebaran pertama

yeee besok lebaraaan.. rasanya beda, ga seseneng dulu.. iya skrng papah udh ga ada.. gw, mamah sama aa cuma bertiga. gw pengen kumpul ber-empat lagi. tapi gimana, papah udah disana :') ga pernah nyangka lebaran taun kemaren itu lebaran terakhir gw cium tangan papah, minta maaf sama papah. karena taun ini gw udah ga bisa cium tangannya lagi, ato minta maaf sama papah. we'll miss you dad.. in this special day i wanna see your face and see your smile.. :)

Selasa, 02 Agustus 2011

i miss you so bad my lovely daddy. i just wanna share my day with you, i wanna tell about this day to you.